SELAMAT DATANG DI WEBLOG TAMAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI CAHAYA ILMU SEMARANG)

Selasa, 23 Februari 2010

SENTRA PEGENALAN ALAM BEBAS


Beragam peristiwa yang dialami anak adalah catatan penting yang mempengaruhi arah dan kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak. Sehingga manusia mempunyai satu masa yang sangat penting yang disebut sebagai masa emas (golden age) yang terjadi pada pada usia 0-4 th.
DOWNLOAD
SENTRA PEGENALAN ALAM BEBAS Read More..

Memotret Revolusi Islam Iran Dalam Percaturan Kebudayaan Global

BERBAGAI wacana “revolusi” yang telah ada dan pernah menjadi diskursus kita bersama—baik sebagai sebuah konsep teoritik dan praktek pada gerakan masa yang terorganisir dan bertumpu pada gerakan pemikiran maupun gerakan budaya—tentunya telah menghadirkan demikian banyak perbedaan dalam cara pandang untuk merancang sebuah revolusi, apalagi yang benar-benar Islami. Bahkan, tidak jarang perbedaan konsep-konsep tersebut justru meruntuhkan totalitas, kesatuan nilai dan kepercayaan, dalam semua dimensi kehidupan masyarakat Islami.
DOWNLOAD Read More..

Model Penyusunan Rencana Pembelajaran dan Silabus Pada PAUD


Sering dikatakan bahwa proses belajar pembelajaran adalah merupakan proses komunikasi dimana terjadi proses penyampaian pesan tertentu dari sumber belajar (misalnya guru, instruktur, media pembelajaran,dll.) kepada penerima (peserta belajar, murid, dsb), dengan tujuan agar pesan (berupa topik-topik dalam mata pelajaran tertentu) dapat diterima (menjadi milik, di-shared) oleh peserta didik / murid-murid.
DOWNLOAD Read More..
MISKUN
Komunitas Ilci Ar-Rasyid Semarang

Orang 1 : Katakan apa saja! Haram bisa menjadi halal atau sebaliknya, kafir bisa menjadi mukmin atau terserah kamu ingin bilang apa yang terpenting jangan kau bilang negeri ini miskin. Coba kau keruk perut bumi kita ini, berlimpah kekayaan di dalamnya, kau tanami pasti tumbuh subur.

Orang 2 : Ah…kau mengingatkanku pada retorika bangsa “gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo murah kang sarwo tinuku, subur kang sarwo tinandur”. Buktinya mana...! harga BBM saja sudah melambung tinggi ke angkasa, kebutuhan pokok semakin mempersempit kantong kita ini. Jelas saja kalau negeri kita ini patut kita bilang miskin!

Orang 3 : Eh…jangan sekali-kali menyebut bangsa kitai miskin. Paling cuman kamu yang miskin atau atau malahan kita yang miskin.

Orang 1 : Benar-benar, benar! Apa yang kau bilang, kita yang miskin. Mau bukti daya beli rakyat tetap stabil, bus, mikromini, becak tetap jalan dan semua bisa makan kenyang di rumah-rumah istana. Cuman kita aja!

Orang 2 : Iya…ya aku baru sadar “lir ilir, tandure wus sumilir, tak ijo royo royo, tak senggo temanten anyar…”. Tapi bagaimana aku! apa yang harus aku makan besok. Sekarang saja jadi penganguran akibat di PHK, semua barang naik dan pengurangan tenaga kerja. Lha…ini…ini..imbasnya bagiku.

Orang 3 : Mungkin ada hikmah di balik itu, siapa tahu bentar lagi engkau akan mendapatkan kerja yang lebih baik dari buruh pabrik. Bangsa kita adalah bangsa yang makmur dan sejahtera dengan kesuburan tanahnya, kelebatan hutanya, kedalaman lautnya. Dan yang paling hebat sumber daya manusianya yang semakin cerdas.

Orang 1 : Itu baru aku setuju. Di berbagai bidang kita selalu unggul, kebudayaan, ilmu pengetahuan, teknologi, ijthihad, musik, makanan dan minuman, spiritualiatas, kebonekanya dan masih banyak lagi yang tidak di miliki bangsa lain.

Orang 2 : Walaupun masyarakat, mahasiswa, pedagang dan anak kecil ikut demonstrasi menolak kenaikan harga BBM, tetap saja harga semakin melambung tinggi. Tapi yang membuatku heran rakyat tetap tenang-tenang saja. Hanya aku saja yang ngeluh he he…!

Orang 3 : Buktinya sudah jelas, bangsa kita penuh dengan kedamaian dan ketenangan. Harga-harga naik, jalan-jalan tetap macet penuh mobil, warung-warung makan tetap banyak pengunjungnya.

Orang 1 : Kesimpulanya Negara kita tetap menjadi bangsa yang kaya.

Orang 2 : Tapi apa untungnya buat aku.

Orang 3 : Tenang saja! Bentar lagi dana subsidi dari pemerintah untuk kita pasti turun. Pokoknya jangan kuatir.

Orang 1 : Kita sudah membincang ini dan itu. Dan inilah bukti nyatanya pemerintah menghargai rakyatnya.

Orang 2 : Aku tetap saja kuatir. Walau negeri ini kaya bagi ku tetap amat miskin dan pemerintah hanya akan meNsubsidi orang orang miskin yang benar-benar miskin.

Orang 3 : Jangan bersedih gitu lah….ini semuakan biar menenangkan hati dan jiwa kita.

Orang 1 : Kita harus tetap tersenyum karena kita adalah masyarakat yang memiliki nilai-nilai budaya yang luhur. Walaupun ini hanya sekedar hiburan.

Orang 2 : Jadi kalian ini…!

Orang 3 dan 1 : Ya…ya…benar

Orang 2 : Eeeeee…kalian ini dasar sok ya…!

Orang 3 dan 1 : Ya…ya…benar

Orang 1 : Ngangur di PHK ya…!

Orang 3 dan 1 : Ya…ya…benar

Orang 1 : Dasar…kakean ngomong cangkemu iku. Rakyat makmur, Negara kaya, orang-orangnya pinter…

Orang 3 dan 1 : Ya…ya…benar

Orang 2 : Ciluuuuuuuuuuup ba! Santai aja nikmati hidup ini he he

Orang 3 dan 1 : Ya…ya…benar, goblok kok tambah nyantai…

Orang 2 : katanya bentar lagi ada bantuan subsidi BTL (bantuan langsung tunai).

Orang 1 : Memang benar ada bantuan langsung tunai!

Orang 3 : Bantuan langsung tunai itu salah ha ha ha, yang benar BTL itu bantuan langsung tewas. Wong…kita tetap saja ngangur, miskin dan tetek bengeknya.

Orang 2 : Iya…ya…belum tentu subsidi itu cair kepada kita. Kan melewati bebrapa tahap, dari pendataan hingga sampai kepada masyarakat miskin.
Orang 1 : Di negeri yang sudah amat miskin ini. Pemerintah akan mendata orang-orang yang layak mendapatkanya.

Orang 3 : Semoga saja terdapat pendataan yang benar. Sebab biasanya pimpinan yang mengurusi bidang kemiskinan itu belum tentu kaya.

Orang 2 : Wah….pemikiranmu jelas-jelas bermutu.

Orang 3 : Ya….iyalah, masyak ya iya dong, orang cakep gitu lhoh.

Orang 1 : Benar-benar memuasakan, aku percaya sekarang. Saat ada pembagian sembako, bantuan dan subsidi banyak orang kaya yang ngaku-ngaku miskin.

Orang 2 : Terkadang juga seperti itu. Namanya aja duiiiit, siapa yang ngak mau.

Orang 3 : Secara materi mereka tetap kaya. Tapi batin, hati dan jiwa mereka merasa miskin. Maka juga perlu di kasihani. Membagikan sedikit harta kepada orang yang tidak mampu kan ibadah.

Orang1 : Jadi kesimpulanya baik kaya dan miskin tetap sama rata. Mendapatkan subsidi, bantuan dan sembako

Orang 2 dan 3 : Lha..itu baru adil.

Apa ada yang salah dengan bangsa ini?
Atau kita hanya tersenyum sendiri
Negeri seribu permadani intan, berlian dan permata
Menghias sulaman benang merah dan putih
Kita hidup di negeri pertiwi
Putih dan suci!
Manusia tak punya tempat kecuali di lorong-lorong
Kita hidup di bangsa garuda
Gagah dan berani!
Di mana keserakahan dan kerakusan sudah mendarah daging
Kekuasaan di perebutkan
Kemunafikan di budayakan
Kemiskinan di mapankan
Orang kaya mengaku miskin
Orang miskin mimpi ingin jadi kaya
Inilah negeri sejuta dongeng
Kebenaran sudah di abaikan
Keadilan sudah di tinggalkan

Yang ada hanya doa semoga negeriku baik-baik saja
Semarang, 12 Juli 2008
Read More..
Terancamnya Takhta SBY
Lukman Wibowo

Sumber : www.harianjoglosemar.com
(Artikel ini pernah dimuat dalam Harian Joglosemar, 6/01/10)


Semenjak era Reformasi bergulir, ruang-ruang publik mulai terbuka lebar. Tiap hari nyaris ada gelombang massa yang turun ke jalan. Desakan puncak yang biasa kita dengar adalah, menuntut pertanggungjawaban Sang Presiden untuk menyelesaikan masalah-masalah yang tengah terjadi.
Tuntutan semacam ini adalah lumrah, mengingat posisi Presiden adalah kepala negara sekaligus pimpinan manajerial pemerintahan. Aksi massa pun bergandengan dengan forum-forum dialog, jajak pendapat, maupun debat opini yang disiarkan secara massif oleh media massa. Akhirnya, masyarakat di seantero negeri merespon. Maka jadilah ia sebuah bola liar yang terus menggelinding hingga ke dasar yang paling radikal: Turunkan Presiden!
Hantaman massa seperti itu dialami oleh semua Presiden Indonesia. Dalam perjalanan Reformasi yang telah mencapai satu dasawarsa ini, Gus Durlah yang paling telak mengalaminya, ia diturunkan di tengah jalan.
Sepanjang SBY bertakhta—sejak terpilih pada 2004 hingga ditahbis di kursi yang sama pada 20 Oktober 2009—radikalisme politik bergerak cukup cepat. Tensi tertinggi terjadi di awal periode sekarang. Sejak gonjang-ganjing kriminalisasi KPK, makelar kasus, Centurygate, Hari Antikorupsi, dan pelarangan buku Gurita Cikeas; suara publik berteriak kian dahsyat. Namun, apakah gonjang-ganjing kali ini bakal membuat SBY (di)turun(kan)?

SBY Terancam
Ada beberapa hipotesa yang bisa diajukan terkait kemungkinan SBY akan turun di tengah jalan. Ini sekadar pandangan awal yang prosesnya akan terus berkembang seiring perkembangan waktu. Dimana filsafat Hegelian—tentang benturan antara tesa dan antitesa yang pasti melahirkan sintesa—menemukan kontekstualisasinya dalam pergulatan politik.
Pertama, ini adalah kali kedua SBY berkuasa. Kaum oposan menyebutnya: Rezim SBY Jilid 2. Kemenangan partainya di pemilu 2009 terjadi secara fantastis; mengalahkan partai-partai babon seperti Golkar dan PDIP. Bahkan dalam pilpres, Pasangan SBY-Boediono menang mutlak di putaran pertama. Rumor terjadinya kecuranganpun bertebaran. Gugatan muncul di meja MK, namun hasilnya pemilu tetap dinyatakan syah. Kemenangan inilah yang membuat gerah sejumlah pihak.
Kedua, pada periode ini (2009-2014) SBY berdiri lebih kokoh. Sejumlah partai dirangkul menjadi koalisinya. Di tingkat legislatif, “musuh” SBY memang tak bisa dibilang kecil, namun tak sebesar di periode Jilid 1. Bahkan di lembaga eksekutif, ia sedemikian kokoh. SBY berhasil menempatkan orang-orang yang patuh kepadanya—mulai dari Wapres, menteri-menteri, hingga aparatur negara yang lain—untuk bekerjasama serta mengelilinginya. Slogan antiknya adalah: Bersama kita bisa!
Orang seidealis dan “segalak” Kwik Kian Gie, Siti Fadilah Supari, atau Rizal Ramli adalah kalangan (mantan menteri) yang dianggap tak layak pakai lagi. Singkatnya, SBY nyaris mengampu kekuasaan secara tunggal. Sehingga tak aneh bila para komentator mensinyalir bangkitnya potensi Orde Baru jilid 2.
Ketiga, terbukanya pintu demokrasi tak serta merta melahirkan stabilitas politik. Di tingkat rivalitas politik, demokrasi mempersilahkan terbangunnya ruang konsolidasi bagi pihak-pihak yang kalah, tapi amat berbahaya bagi kelompok yang sedang berkuasa. Dalam mekanisme domokrasi, siapapun bisa naik atau diturunkan secara tiba-tiba.
Akan tetapi, mekanisme demokrasi bersifat lebih sportif ketimbang permainan politik praktis. Dalam demokrasi, kuantitas massa adalah kuncinya; tapi dalam politik praktis, kudeta dapat terjadi kapan saja. Dari kasus Gus Dur, kita bisa belajar. Betapa ia dapat diturunkan oleh hanya segelintir orang. Andai saja saat itu Gus Dur mau menggunakan mekanisme demokrasi yang paling radikal (unjuk kekuatan massa) barangkali kisahnya akan berbeda. Tapi Gus Dur tak ingin terjadi pertumpahan darah di antara sesama anak bangsa. Ia “ikhlas” diturunkan. Jika hal yang sama terjadi pada SBY, apakah dirinya mampu legowo seperti itu?
Keempat, selama memerintah, SBY sering mengklaim keberhasilannya dalam memberantas korupsi. Namun di lapangan faktanya berbeda. Persentuhan masyarakat dengan berbagai institusi pemerintahan, acap dinodai oleh praktik-praktik korupsi.
Maka ketika terjadi kriminalisasi KPK, masyarakat geram bukan kepalang. Sehingga, rekayasa penggerogotan KPK membuat sensifitas publik memuncak. Jadi, tak mengherankan jika aksi massa di jalanan, agitasi intelektual, hingga gelombang facebooker, bergerak amat cepat dalam merespon kasus tersebut.
Setelah kasus KPK meredam, publik harus meningkatkan energinya untuk menghadapi skandal Bank Century, politisisasi pansus, dan pelarangan beberapa buku yang dituding membuka aib sejumlah pejabat dalam perkara korupsi.
Lalu gugatan publik mencuat: Klaim SBY tentang terentasnya korupsi, adalah tidak benar! Masyarakat merasa dibohongi, lalu mulai menumpahkan ketidakpuasannya secara emosional. Radikalisme seperti ini tentu saja mengancam buat SBY.
Kelima, arus neoliberalisme memukul sendi-sendi kehidupan masyarakat. Ekonomi rakyat tak kunjung membaik. Angka pengangguran masih tinggi. Akses pendidikan serta kesehatan murah belum terjangkau. Upah buruh tak mencukupi biaya hidup yang membengkak, dan sistem kerja kontrak memupus harapan tentang kesejahteraan. 30% masyarakat yang notabene petani terbebani oleh kapitalisasi pangan. Nelayan terjungkal oleh kontrak pengalihan sumber daya laut yang dikuasai Asing. Pasar tradisional terancam punah oleh globalization market. Harga tanah dan perumahan kian melambung tinggi. Masalah-masalah sosial seperti sengketa lahan dan dehumanisasi masih menciderai lingkup keseharian. Neolib bahkan menghancurkan—secara langsung ataupun tidak langsung—sektor lingkungan, kemasyarakatan, juga segi-segi kebudayaan.
SBY kurang jeli membidik persoalan-persoalan yang disebabkan oleh neoliberalisme tersebut. SBY tak mampu menolak program-program neolib yang ditancapkan kekuatan global (Asing) di negara ini.
Maka muncul stigma yang menyudutkan posisinya; baik itu dicap sebagai pemerintahan boneka neolib, pemimpin yang tak berani dan peragu, maupun sebagai kepala negara yang tidak memiliki konsep dalam membangun kemandirian bangsa.
Beberapa hipotesa di atas, tak boleh diremehkan. SBY jangan terlalu konfiden dengan perolehan suaranya yang berkisar 60% di pilpres lalu. Pasalnya, keberpihakan konstituen dapat berubah sewaktu-waktu. Lagipula, tingkat suara golput sangat besar. Artinya, dukungan terhadap SBY kemarin tidak memiliki angka pasti yang mampu dijadikan sebagai parameter kekuatan politiknya.
SBY tak cukup mencari empati dan segala bersumpah, tapi ia harus menunjukkan bukti serta kerja konkritnya dalam menyelesaikan permasalahan bangsa yang kian memburuk. Jika tidak, bisa dipastikan ia akan turun sebelum waktunya.

Lukman Wibowo,
Pedagang sandal yang nyambi sebagai
pengajar privat matematika dan pekerja seni
Read More..

Selasa, 16 Februari 2010

Pembelajaran Audio visual (Outbound and Parenting)



Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru memegang peranan utama dengan serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai suatu tujuan tertentu, dimana interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar.
DOWNLOAD
1.OUTBOUND
2.PARENTING Read More..