SELAMAT DATANG DI WEBLOG TAMAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI CAHAYA ILMU SEMARANG)

Jumat, 09 Juli 2010

PARENTING UNTUK WALI MURID

Hari ini bertepatan dengan hari Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. TPIUAD Cahaya Ilmu Semarang mengadakan gelar acara Parenting untuk wali murid dan di ikuti beberpa dari masyarakat setempat.
Para peserta sangat antusia dalam mengikuti acara yang di pandu langsung oleh Mas Dedy. Ada banyak yang di paparkan dalam acara tersebut. Seperti pentinggnya pendidikan anak usia dini karena di masa itu merupakan masa emas (golden age). Hal ini mengisyaratkan akan pentingnya pendidikan anak pada usia dini. Penelitian menunjukan bahwa pada usia tersebut tak ubahnya seperti seorang profesor yang bergerak aktivitas dalam mengeksplor kreatifitas dan daya imanjinasi.
Inilah The Miracle of Golden Age, tema yang disampaikan acara Parenting kali ini.
Peserta sangat menikmati acara tersebut selain memberikan beragam pentingnya pendidikan bagi anak. Mereka juga di ajak melakukan aktivitas seperti senam otak, bernyanyi, permainan dan berbagai hal yang menjadikan hidup lebih hidup karena kebahagiaan itulah yang kita harapkan.
Bukan menjadi negara terkorup di dunia, negara pecandu pornografi ataupun negeri yang di penuhi oleh perilaku-perilaku yang tidak bermoral lainnya
Read More..

Senin, 05 Juli 2010

PENERIMAAN PESERTA DIDIK

TPIAUD CAHAYA ILMU TAHUN AJARAN 2010-2011 MENERIMA PESERTA DIDIK BARU.
KAMI AKAN MENDIDIK GENERASI PENERUS BANGSA DENGAN ILMU DAN CINTA

TIADA YANG PALING INDAH SELAIN PENGAJARAN BERMAIN DAN BELAJAR. KARENA DISITULAH FITRAH ANAK USIA DINI PADA MASA GOLDEN AGE.

HUBUNGI KAMI :
024-6731431 Read More..

Selasa, 04 Mei 2010

KEMBALIKAN RUH PENDIDIKAN SEBAGAI PENCERDAS BANGSA


Sindi Setyadi (Ketua Umum HMI Cabang Semarang)

Semua bangsa di dunia pasti menempatkan pendidikan pada posisi yang tinggi. Nyaris tak ada suatu bangsa yang melecehkan pendidikan bagi bangsanya sendiri. Mereka sangat menyadari kemajuan bangsa ditentukan oleh kepandaian generasi baru dari bangsa itu sendiri. Pendidikan dalam pandangan kontemporer seharusnya diartikan sebagai sebagai tulang punggung (read:sistem nilai) bangsa dan negara untuk mencapai visi besar bangsa. Demikian pula dengan Indonesia yang pada dasarnya menempatkan pendidikan di level tinggi, Hal ini terbukti bahwa bangsa ini secara teoritis menempatkan pendidikan sebagai alat ideal mencapai tujuan bangsa. Kita bisa melihat makna dalam UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003 pasal 1 yakni “untuk mengembangkan peserta didik secara aktif dalam mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual kegamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta kerampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan bangsa”. Jelas sekali paradigma pendidikan (read:ruh) kita menggambarkan betapa esensi pendidikan merupakan entitas yang sangat komprehensif menyangkut berbagai dimensi perkembangan individu dalam kaitannya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.ealitas yang terjadi di masyarakat, seharusnya menempatkan hubungan yang serasi antara pemerintah, pelaku pendidikan dan objek pendidikan. Dalam hal ini dibuktikan dengan keseriusan pemerintah dalam menyelesaikan problematika pendidikan yang selama ini sudah menjamur dengan menghadirkan solusi yang tepat, pelaku pendidikan dengan menyelenggarakan pendidikan berdasarkan sebagaimana tertuang dalam pasal 19 ayat (1) PP 19/2005 tentang Standar Nasional pendidikan, dan peserta didik berlomba-lomba dalam peningkatan mutu. Dalam budaya akademik modern pun mestinya ada tiga hal penting yang harus diperhatikan. Pertama, ku-rikulum program studi harus berbasis mutu dan silabus dari kurikulum tersebut harus terus dikaji apakah sudah sesuai dengan kebutuhan dunia kerja atau belum. Kedua, proses pembelajaran yang terkendali. Ketiga, standar output yang terjamin.
Dinamika ini mestinya menjadi refleksi pendidikan sehingga membuat kita mampu menilai potret pendidikan nasional kita, semakin mendekati visi/ tujuan nasional pendidikan atau bahkan keluar jalu pendidikan nasional. Pertama, UU BHP telah diputuskan oleh MK dengan dasar bertentangan dengan UUD 1945 karena ketentuan-ketentuan yang diatur UU BHP yang dinilainya merupakan penyeragaman bentuk tata kelola, Penyeragaman itu terjadi karena UU BHP membuat penyelenggara pendidikan harus berbentuk BHP. Hal ini yang sejak awal terbentuknya ditentang mahasiswa, baru terealisasi kemarin dan bahkan belum disiapkan konsep ideal penggantinya. Kedua Kapitalisasi perguruan tinggi sebagai cara baru (read:neo liberalisme) yang dirasakan dunia pendidikan sekarang ini adalah terjadinya pengurangan subsidi pendidikan. Perguruan tinggi negeri harus menjadi badan yang mandiri. Subsidi yang dulu dilakukan terhadap SPP mahasiswa semakin berkurang. Subsidi dan campur tangan pemerintah di hampir semua sektor memang tidak disukai neoliberal akhirnya Beberapa PTN favorit untuk kepentingan penggalian sumber dananya dengan membukaj alur non -SPMB dengan menetapkan sumbangan puluhan juta sebanyak-banyaknya yang artinya pula sumber pendapatannya banyak. Kemudian yang terjadi terjadi privatisasi sekolah dan universitas. Itu sangat sesuai dengan semangat neoliberal persaingan bebas yang dalam hal ini pemerintah tutupi dengan menurunkan 20% APBD untuk pendidikan, namun realisasinya tidak jelas.Ketiga profesionalisme tenaga kependidikan berpegang pada idealisme dan progresifitas menuju tercipanya nuansa pndidikan yang harmonis, menyediakan sumber belajar, membenahi guru dan tenaga kependidikan lainnya dengan tetap mewujudkan manajemen pendidikan yang proffesional, penyelenggaraan evaluasi pendidikan baik proses maupun hasil secara obyektif, komprehensif, dan berkesinambungan. Keempat problematika UN yang menjadi satu-satunya indikator mutu (read:kelulusan) telah menunjukan kgagalannya, Dengan kata lain, UN tidak mampu meningkatkan kinerja pendidikan dalam konteks makna pendidikan atau terjadi simplifikasi kinerja pendidikan. Dalam konteks proses pembelajaran, UN telah mereduksi makna pembelajaran dari situasi pembelajaran yang seharusnya terwujud dalam pendidikan. Tentu saja cara makna pendidikan yang sesungguhnya yakni proses perwujudan pendidikan menyeluruh menjadi terreduksi, menyempitkan makna pendidikan dan dapat mengarah kepada suatu pola pikir intelektual-elitis, yaitu memandang kesuksesan dari sudut in-telektual/kognitif dengan alat ukur UN an sich. Kelima belum meratanya orang-orang yang merasakan pendidikan, apalagi kaum miskin. Kesempatan orang kaya memilih perguruan tinggi memang selalu lebih banyak dari pada orang miskin. Dengan adanya model seleksi yang target sebenarnya adalah mendapatkan sumber dana sebesar-besarnya, maka mereka yang berasal dari keluarga kaya meskipun prestasi akademiknya tidak bagus memiliki kesempatan yang besar, sedangkan yang dari keluarga miskin meskipun kecerdasannya mumpuni, tetap saja terpenjara dalam kemiskinannya.
Sesuai dengan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Departemen Pendidikan Nasional berkewajiban mencapai visi pendidikan nasional sebagai berikut. "Ter wujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah".
Diharapkan, ada kebijakan baru dalam menangani problematika pendidikan. Pertama, ini diawali dengan dibentuknya komitmen politik yang kuat dan tangguh dari pemerintah untuk menengok dan memedulikan persoalan pendidikan sampai akar rumput. Kedua, keseriusan pemerintah pusat maupun daerah untuk merealisasikan anggaran pendidikan minimal 20%, baik dari APBN maupun APBD, bukan hanya di atas kertas, melainkan dalam bentuk kerja nyata. Ketiga, perlunya dibentuk aparatus pendidikan di elite pemerintahan yang berjiwa bersih, suci, dan jujur demi pemenuhan pendidikan murah meriah dan gratis bagi rakyat miskin. Ini sangat menjadi pijakan utama agar pemerintah mampu mempermudah dilahir-kannya kebijakan-kebijakan pendidikan pro rakyat miskin.
Read More..

GURU; MENGAJAR DAN MENDIDIK


Oleh : Sugiharti (Komunitas ilci Institut Semarang)


Menjadi guru tidak sesederhana yang kita bayangkan. Sepintas kita melihat bahwa guru hanya bertugas mengajar di depan kelas kemudian memberi nilai kepada murid. Tetapi dibalik itu, guru mempunyai tugas dan tanggung jawab yang tidak ringan. Dari mulai hal-hal yang bersifat teknis hingga ke moral building, semua menjadi tanggung jawab yang harus diemban oleh para guru.
Kaitanya dengan pendidikan, guru mempunyai dua tugas; mengajar dan mendidik. Mengajar berkaitan erat dengan bagaimana seorang guru dapat memberikan materi pelajaran dengan metode yang menarik. Dalam hal ini, guru dituntut untuk kreatif dalam mengajar. Sebelum mengajar, guru terlebih dahulu harus mempersiapkan rencana yang matang, membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dan menyiapkan media atau alat yang sesuai untuk proses belajar mengajar. Selain itu, agar materi yang disampaikan bisa diterima murid dengan mudah, perlu adanya seni yang nota bene penting untuk dikuasai oleh para guru, karena mengajar merupakan sebuah seni. Seorang guru beretorika di depan kelas dengan gaya yang luwes dan berusaha memasang wajah senyum dan ceria meski dalam situasi sedih, semua itu membutuhkan ketrampilan seni, baik seni retorika maupun seni aktingSedangkan mendidik erat kaitanya dengan membangun kekuatan mental dan spiritual peserta didik (moral force), seorang guru harus benar-benar menjadi figur Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani, artinya guru hendaknya bisa menjadi teladan bagi siswa di manapun berada. Keteladanan tersebut dapat ditunjukkan dengan memosisikan guru sebagai orang tua di sekolah melalui pemberian perhatian dan cinta yang tulus kepada murid, membimbing mereka apabila mengalami kesulitan yang tidak terbatas pada materi pelajaran saja, tetapi juga kesulitan yang berhubungan dengan problematika dan psikologis murid. Ketika berada di tengah-tengah para murid, ia harus dapat mensejajarkan diri dengan murid sehingga dapat menyelami kehidupan mereka. Bila seorang guru telah mengenal muridnya dengan baik, maka dapat tercipta hubungan yang dinamis antara murid dengan guru. Selain itu, perhatian dan cinta yang tulus terhadap murid akan membawa dampak yang positif terhadap peningkatan prestasi dalam segala bidang.
Oleh karena itu, tugas guru yang besar dan mulia ini perlu diimbangi dengan perhatian pemerintah terhadap standar kelayakan gaji guru, baik guru negeri, swasta maupun honorer. Mustahil seoarang guru dapat meningkatkan kecerdasan anak bangsa jika mereka masih tertatih-tatih untuk meningkatkan kesehteraan hidupnya sendiri. Sudah saatnya guru memperoleh haknya untuk hidup layak sehingga cita-cita pendidikan untuk mencerdaskan generasi bangsa dapat tercapai secara optimal.
Read More..

Senin, 05 April 2010

SPEKTRUM KASIH


Ia tersenyum kecut ke arahku. Pandagannya semakin tajam dan aku semakin tidak mengerti. Aku kembali membuka lembaran-lembaran koran yang tercecer di ruang tamu. Semakin aku banyak bergerak, tatapan matanya semakin menakutkan. Seperti singa yang sedang kelaparan. Tiba-tiba terdengar bunyi pecahan piring, “pyaaarrr”. Aku diam dan seketika itu pula lembaran koran yang ada di tanganku begitu aja lepas jatuh kepada lantai.
“Dasar bajingan”, kata-kata itu keluar dari mulutnya. Aku semakin tidak percaya bisa-bisanya orang yang begitu lugu dan polos sampai mengucapkatan kata-kata pedas semacam itu. Sehingga kupingku terasa sakit sekali, seperti tamparan tangan yang melambai ke mukaku.
“Hai, kenapa kau pandangi aku, bisa berhenti ngak”, ia bicara ke arahku. Sontak aku terdiam.
Tiba-tiba ia menghampiriku dan menjatuhkan beberapa piring di hadapanku. Pecahan piring sedikit mengenai kakiku. Akupun disuruh berjalan diatas pecahan piring. Bagaimana aku bisa berjalan. Jika pecahan itu sangat tajam. Dan ia pun mendorongku. Akupun terjatuh. Seketika itu pula tajamnya pecahan piring menancap di tubuhku.
Darah merah keluar dari tubuhku, tapi tidak sebegitu parah sehingga cucuran darah itu hanya beberapa detik keluar. Namun luka itu semakin terasa saat dia memukulkan piring ke arah kepalaku.
Rasa sakit semakin menghelanyuti tubuhku. Mau berkata tidak bisa, seolah mulut ini sudah di bungkam dengan kata-kata. Wajahnya begitu menakutkan, aku hanya bisa menahan rasa sakit.
Tangan dan kakinya menuju kearahku, begitu dekat. Perasaan semakin was-was, gimana nih. Kakinya menghantam tubuhkku. Aku terlempar beberapa centi meter. Karena tidak tahan akupun bangun. Walaupun sulit rasanya mengerakan tubuh, karena darah sudah keluar dan seluruh tubuh terasa ngilu.
“Bangsat”, kata itu muncul kembali dari mulutnya.
Dalam berdiriku ada diam. Bagaimana aku bisa menahan rasa sakit begitu tajamnya seperti mulut singa yang sedang kelaparan, begitu menakutkan dan mengerikan.
Aku di tuduh selingkuh. Ternyata ia marah karena aku berselingkuh dengan teman satu kerja di sekolahan negeri. Ia mendengar itu dari kata-kata tetangga yang mengatakan aku berjalan berdua dengan kepala sekolahku.
Aku tidak habis pikir, mengapa ia menuduhku yang belum ada bukti. Walau sebenarnya memang aku pernah beberapa kali jalan berdua dengan pak kepala sekolah. Namun itu dalam rangka tugas dinas pendidikan.
Aku berusaha menjelaskan dan memberikan keterangan sejelas-jelasnya kepada suamiku tercinta. Ia tetap pada pendiriannya dan tidak mempercayai kata-kata istrinya. Padahal belum pernah dia marah kepadaku, apa lagi sampai melakukan kekerasan.
Tanpa di sangka tubuhku telah terhunus pisau panjang yang ia keluarkan dari balik bajunya. Aku menjerit histeris dan tubuhku lemas tidak berdaya. Akupun terjatuh dan tersungkur, mataku semakin rabun melihat.
”Aku tetap percaya padamu”, kata-kata itu keluar dari mulutku
”Maaf kan aku istriku, aku telah khilaf aku tidak sadar diri melakukan perbuatan hina ini”. Ia baru menyadarinya setelah pisau itu menembus perutku.
Suamiku menggankat tubuhku dan berusaha melarikan aku ke rumah sakit. Ia mengeluarkan tangisan dan aku hanya bisa tersenyum. Hingga senyumanku terasa tidak memiliki daya.
Dunia ini bukanlah dunia yang di liputi dengan kegelisahan. Tapi sebuah kepastian yang bisa di rencanakan. Dengan rencana itu engkau dapat menjalankan sebuah kepastian. Karena sejatinya kegelisahan adalah amarah yang keluar dari diri yang tidak dapat di kendalikan oleh akal dan hati. Maka didiklah akal dan hati dengan perhatian yang serius dengan memusatkan kesadaran kolektif. Yaitu kesadaran illahiah dengan untain zikir dan doa.
Bukan semata kekerasan, amarah dan penyesalan. Akankah kehidupan ini bisa menjadi indah jika pikiran di kendalikan dengan rasa amarah. Bukankah rasa yang seharusnya di nikmati dengan kemanisan dan kelembutan.
Dan aku percaa bahwa amarah adalah fitrah
Dan aku percaya bahwa akal dan hati adalah anugerah
Dan aku percaya ada hukum keseimbangan
Seperti rotasi bumi mengelilingi matahari

Lukni Maulana
4 Maret 2010
Jl. Sri Rejeki Utara VII/4 Rt. 3 Rw. 1,
Kelurahan Kalibanteng Kidul Semarang Barat
Read More..

Selasa, 09 Maret 2010

PEMENTASAN, BUDAYA DAN TEATER


Adanya kesadaran bahwa proses belajar dan pembelajaran adalah merupakan proses komunikasi membawa implikasi-implikasi yang sangat penting dan mendasar bagi penyelenggaraan dan pelaksanaan serta hakikat proses belajar dan pembelajaran itu sendiri. Selain itu, kegiatan komunikasi juga dilakukan atau diperlukan oleh manusia karena manusia tidak dapat selamanya memperoleh pengalaman langsung (firsthand experiences) didalam hidupnya karena adanya keterbatasan dalam waktu, biaya, sarana dan prasarana dan sebagainya. Oleh sebab itu seringkali kita hanya dapat memperolehnya melalui pengalaman tidak langsung (secondhand atau vicarious experiences) yang kita dapatkan dengan jalan membaca, mendengar, melihat gambar dan sebagainya.
DOWNLOAD
1. PERLENGKAPAN LOMBA, KARNAVAL KELILING, PEMENTASAN, BAZAR BUKU DAN DISKUSI FORUM ANAK
2. NASKAH TEATER ANAK ”BROTOKOLO”
3. MUSIKALISASI PUISI ANAK ZAMAN
4. ORASI PUISI DAN BUDAYA. Read More..